Google Translate

News Update :

BAB V MEMILIH MASALAH DAN MENYUSUN HIPOTESA

Jumat, 17 Juni 2011

BAB V MEMILIH MASALAH DAN MENYUSUN HIPOTESA

5.1. Pengertian
Memilih masalah untuk diteliti merupakan tahap yang penting dalam melakukan penelitian, karena pada hakikatnya seluruh proses penelitian yang dijalankan adalah untuk menjawab pertanyaan yang sudah ditentukan sebelumnya. Memilih masalah juga merupakan hal yang tdiak mudah karena tidak adanya panduan yang baku. Sekalipun demikian dengan latihan dan kepekaan ilmiah, pemilihan masalah yang tepat dapat dilakukan.

Bagaimana peneliti mencari masalah yang akan dikaji, beberapa panduan pokok di bawah ini akan mempermudah bagi kita menemukan masalah:
a.       Masalah sebaiknya merumuskan setidak-tidaknya hubungan antar dua variable atau lebih
b.      Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda dan pada umumnya diformulasikan dalam bentuk kalimat tanya.
c.       Masalah harus dapat diuji dengan menggunakan metode empiris, yaitu dimungkinkan adanya pengumpulan data yang akan digunakan sebagai bahan untuk menjawab masalah yang sedang dikaji.
d.      Masalah tidak boleh merepresentasikan masalah posisi moral dan etika.


5.2. Hubungan Antar Variabel
Masalah sebaiknya mencerminkan hubungan dua variable atau lebih, karena pada praktiknya peneliti akan mengkaji pengaruh satu variable tertentu terhadap variable lainnya. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui ada dan tidaknya pengaruh “gaya kepemimpinan” (variable satu) terhadap “kinerja pegawai” (variable dua).

Jika seorang peneliti hanya menggunakan satu variable dalam merumuskan masalahnya, maka yang bersangkutan hanya melakukan studi deskriptif, misalnya “Gaya kepemimpinan di perusahaan X”. Peneliti dalam hal ini hanya akan melakukan studi terhadap gaya kepemimpinan yang ada tanpa mempertimbangkan factor-faktor lain baik yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan tersebut.

Contoh: Hubungan antara motivasi karyawan dan prestasi kerja
Motivasi: variable satu; prestasi kerja: varaibel dua

5.3. Masalah Dirumuskan Secara Jelas, Tidak Bermakna Ganda dan Dalam  Bentuk Kalimat Tanya
Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak bermakna ganda atau memungkinkan adanya tafsiran lebih dari satu dan dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Contoh:
a.       Apakah ada hubungan antara promosi dengan volume penjualan?
b.      Apakah warna sepeda motor Suzuki mempengaruhi minat beli konsumen?
c.       Apakah desain produk hand phone mempengaruhi keputusan membeli konsumen?
d.      Apakah ada hubungan antara minat baca dengan tingginya indeks prestasi?


Contoh-contoh di atas mencerminkan rumusan masalah yang jelas dan tidak bermakna ganda. Pada contoh “a” peneliti ingin mengkaji hubungan variable promosi dengan variable volume penjualan. Pada contoh “b” peneliti ingin melakukan studi tentang hubungan variable  “warna sepeda motor Suzuki” dengan  variable “minat beli”. Pada contoh “c” peneliti akan mengkaji hubungan antar variable  “desain produk handphone” dengan variable “keputusan membeli”. Pada contoh “d” peneliti akan mengkaji hubungan antar variable “minat baca” dengan “indeks prestasi”.

5.4. Dapat Diuji Secara Empiris
Masalah harus dapat diuji secara empiris, maksudnya perumusan masalah yang dibuat memungkinkan peneliti mencari data di lapangan sebagai sarana pembuktiannya. Tujuan utama pengumpulan data ialah untuk membuktikan bahwa masalah yang sedang dikaji dapat dijawab jika peneliti melakukan pencarian dan pengumpulan data. Dengan kata lain masalah memerlukan jawaban, jawaban didapatkan setelah peneliti mengumpulkan data di lapangan dan jawaban masalah merupakan hasil penelitian.

5.5. Hindarilah Penilaian Moral dan Etis
Sebaiknya peneliti menghindari masalah-masalah yang berkaitan dengan idealisme atau nilai-nilai, karena masalah tersebut lebih sulit diukur dibandingkan dengan masalah yang berhubungan dengan sikap atau kinerja. Misalnya kita akan mengalami kesulitan dalam mengukur masalah-masalah seperti berikut ini:
·        Haruskah semua mahasiswa tidak mencontek dalam ujian?
·        Haruskah semau mahasiswa rajin dalam belajar?

Akan lebih baik kalau masalah tersebut dijadikan dalam bentuk seperti:
·        Hubungan antara kesiapan ujian dan nilai yang diraih
·        Pengaruh kerajinan mahasiswa terhadap kecepatan kelulusan

5.6. Strategi Menentukan Masalah
Salah satu cara untuk membuat perumusan masalah yang baik ialah dengan melakukan proses penyempitan masalah dari yang sangat umum menjadi lebih khusus dan pada akhirnya menjadi masalah yang spesifik dan siap untuk diteliti. Di bawah ini diberikan contoh cara menyempitkan masalah yang berkaitan dengan penelitian dalam dunia bisnis.
























Penyaringan identifikasi masalah
 




Penyaringan formulasi masalah
 



Penyaringan seleksi masalah
 




Masalah yang khusus dengan tujuan penelitian yang dinyatakan
 
 




































                                                         
Davis (1985, 47)

Gambar di atas mengilustrasikan peranan identifikasi masalah dalam proses pengembangan perumusan masalah, yaitu proses penyaringan mulai dari yang umum sampai dengan masalah yang khusus. Masalah dimulai dari adanya pemikiran “concern” manajerial yang sedang dihadapi atau yang akan dihadapi, kemudian masalah pemikiran tersebut dipersempit menjadi proses penyaringan perumusan masalah dan pada tahap ketiga menjadi penyaringan pemilihan masalah yang akan diteliti dengan disertai tujuan penelitiannya.

Contoh kasus:

5.6.1. Mengenali suatu gejala
Munculnya rasa ketidakpuasan dinatara para programmer komputer di suatu perusahaan tertentu. Penghasilan perusahaan tersebut terus meningkat dengan baik selama lima tahun terakhir ini. Keluhan-keluhan secara lisan telah diterima dari para pegawai mengenai struktur penggajian yang dianggap sudah tidak memadai lagi.

5.6.2. Identifikasi Masalah
a)      Melakukan evaluasi terhadap data internal dan eksternal dengan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
·        Monitoring ketidakpuasan  tersebut dan penyebaran informasi penghasilan perusahaan
·        Melacak apakah pernah ada rasa ketidakpuasan  muncul di masa-masa lalu.
·        Mencari literature / acuan yang membahas masalah yang mirip dengan kejadian yang dialami di perusahaan tersebut dengan masalah di perusahaan lain.
b)      Melakukan isolasi area masalah
·        Pihak manajemen tidak mempunyai perencanaan alokasi penggajian yang kosnisten
·        Berdasarkan wawancara diluar diketahui adanya ketidakpuasan terhadap system penggajian
·        Pihak direksi telah menginventarisasi keluhan-keluhan dari pegawai mengenai adanya diskriminasi penggajian.

5.6.3. Rumusan Masalah
Rumusan masalah akan berbunyi sebagai berikut:
·        Factor-faktor utama apa saja yang berhubungan dengan tingkat-tingkat penggajian bagi para professional ahli komputer di perusahaan tersebut.
·        Apakah ada hubungan antara meningkatnya penghasilan perusahaan dengan ketidakpuasan di kalangan para programmer

5.7. Pertimbangan Khusus dalam Memilih Masalah yang akan Diteliti
Dalam melakukan pemilihan masalah dapat mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:

a)      Dapat Dilaksanakan
Jika kita memilih masalah tertentu, maka pertanyaan-pertanyaan di bawah ini bermanfaat bagi kita untuk mengecek apakah kita dapat atau tidak melakukan penelitian dengan masalah yang kita tentukan: 1) apakah masalah tersebut dalam jangkauan kita? 2)apakah kita mempunyai cukup waktu untuk melakukan penelitian dengan persoalan tersebut? 3)apakah kita akan mendapatkan akses untuk memperoleh sample yang akan kita gunakan sebagai responden sebagai sarana pemerolehan data dan informasi.? 4)apakah kita mempunyai alasan khusus sehingga kita percaya akan dapat memperoleh jawaban dari masalah yang kita rumuskan? 5)apakah metode yang diperlukan sudah  kita kuasai?

b)      Jangkauan Penelitiannya
Apakah masalahnya cukup memadai untuk diteliti? Apakah jumlah variabelnya sudah  cukup? Apakah jumlah datanya cukup untuk dilaporkan secara tertulis?

c)      Keterkaitan
Apakah kita tertarik dengan masalah tersebut dan cara pemecahannya? Apakah masalah yang kita teliti berkaitan dengan latar belakang pengetahuan atau pekerjaan kita? Jika kita melakukan penelitian dengan masalah tersebut apakah kita akan mendapatkan nilai tambah bagi pengembangan diri kita?

d)      Nilai Teoritis
Apakah masalah yang akan diteliti akan mengurangi adanya kesenjangan teori yang ada? Apakah pihak-pihak lain , seperti pembaca atau pemberi dana akan mengakui kepentingan studi ini? Apakah hasil penelitiannya nanti akan memberikan sumbangan pengetahuan terhadap ilmu yang kita pelajari? Apakah hasil penelitiannya layak dipublikasikan?

e)      Nilai Praktis
Apakah hasil penelitiannya nantinya akan ada nilai-nilai praktis bagi para praktisi di bidang yang sesuai dengan masalah yang akan diteliti?



5.8. Menyusun Hipotesa

Setelah masalah dirumuskan, maka langkah berikutnya ialah merumuskan hipotesa. Apakah hipotesa itu? Hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang sedang diteliti. Hipotesa mempunyai karakteristik sebagai berikut:
·        Harus mengekpresikan hubungan antara dua varibel atau lebih
·        Harus dinyatakan secar jelas dan tidak bermakna ganda
·        Harus dapat diuji, maksudnya ialah memungkinka untuk diungkapkan dalam bentuk operasional yang dapat dievaluasi berdasarkan data.


Hipotesa ada tiga macam, yaitu hipotesa penelitian, hipotes operasional, dan hipotesa statistik.

Hipotesa penelitian ialah hipotesa yang kita buat dan dinyatakan dalam bentuk kalimat.

Contoh:
·        Ada hubungan antara gaya kepempininan dengan kinerja pegawai
·        Ada hubungan antara promosi dan volume penjualan

Hipotesa operasional ialah mendefinisikan hipotesa secara operasional variable-variabel yang ada didalamnya agar dapat dioperasionalisasikan. Misalnya “gaya kepemimpinan” dioperasionalisasikan sebagai cara memberikan instruksi terhadap bawahan. Kinerja pegawai dioperasionalisasikan sebagai tinggi rendahnya pemasukan perusahaan. Hipotesa operasional dijadikan menjadi dua, yaitu hipotesa 0 yang bersifat netral dan hipotesa 1 yang bersifat tidak netral

Maka bunyi hipotesanya:
H0: Tidak ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi – rendahnya pemasukan perusahaan
H1: Ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi – rendahnya pemasukan perusahaan

Hipotesa statistik ialah hipotesa operasional yang diterjemahkan kedalam bentuk angka-angka statistik sesuai dengan alat ukur yang dipilih oleh peneliti. Dalam contoh ini asumsi kenaikan pemasukan sebesar 30%, maka hipotesanya berbunyi sebagai berikut:

H0: P = 0,3
H1: P ¹ 0,3

5.9. Uji Hipotesa
Hipotesa yang sudah dirumuskan kemudian harus diuji. Pengujian ini akan membuktikan H0 atau H1 yang akan diterima. Jika H1 diterima maka H0 ditolak, artinya ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi – rendahnya pemasukan perusahaan.

Dalam membuat hipotesa ada dua jenis kekeliruan yang kadang dibuat oleh peneliti, yaitu:
a)      Menolak hipotesa yang seharusnya diterima. Kesalahan ini disebut sebagai kesalahan alpha (a).
b)      Menerima hipotesa yang seharusnya ditolak. Kesalahan ini disebut sebagai kesalahan beta (b).
Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright Fajar 26 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.