Google Translate

News Update :

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN 2

Senin, 06 Juni 2011

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN 2
Arief Bachtiar
3 sks / modul 1-9: ill.; 21 cm / Edisi 1
ISBN : 9790111282
DDC : 657.044
Copyright (BMP) © Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

Tinjauan Mata Kuliah
Mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan 2 merupakan salah satu mata kuliah prilaku berkarya yang bertujuan untuk memberikan kerangka dasar bagi mahasiswa yang ingin berkarier sebagai praktisi akuntansi keuangan maupun akademisi dalam mengembangkan ilmu akuntansi keuangan. Melalui mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan 2, Anda akan mendapat kesempatan mendalami teori serta mengaplikasikannya dalam suatu usaha bisnis.

Setelah mempelajari mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan 2, Anda diharapkan mampu menyusun laporan keuangan pada aspek penggabungan usaha.

Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai serta bobot 3 SKS, mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan 2 terdiri dari 9 modul yang pengorganisasiannya sebagai berikut:

1. Akuntansi Untuk Investasi Saham. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menerapkan metode cost dan metode ekuitas dalam pencatatan investasi saham.
2. Penggabungan Usaha. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menerapkan akuntansi penggabungan usaha baik menggunakan metode Purchase maupun metode Pooling of Interest.
3. Laporan Konsolidasian: Sesaat Sesudah Akuisisi. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu membuat laporan keuangan konsolidasian sesaat sesudah penggabungan usaha baik menggunakan metode Purchase maupun metoda Poolingof interests.
4. Laporan Konsolidasian: Beberapa Saat Sesudah Akuisisi. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu membuat laporan keuangan konsolidasian beberapa saat/tahun setelah akuisisi, baik bila induk perusahaan menggunakan metode Ekuitas maupun metode Cost dalam mencatat investasi sahamnya di anak perusahaan.
5. Laporan Konsolidasian Outside Ownership. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu membuat laporan keuangan konsolidasian yang terkait dengan hak pemegang saham minoritas (HPSM) beberapa saat/tahun setelah akuisisi.
6. Laporan Konsolidasian–Akuisisi Bertahap dan Pre-acquisition Income. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu membuat laporan keuangan konsolidasian akuisisi bertahap dan pre-acquisition income.
7. Laporan Konsolidasian–Transaksi Aktiva Antarperusahaan yang Berafiliasi. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu membuat laporan konsolidasian adanya transaksi aktiva antarperusahaan yang berafiliasi.
8. Laporan Konsolidasian–Transaksi Aktiva Jangka Panjang Antar-perusahaan yang Berafiliasi. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu membuat laporan konsolidasian adanya transaksi aktiva jangka panjang antar perusahaan yang berafiliasi.
9. Laporan Konsolidasian–Transaksi Utang Jangka Panjang Antar-perusahaan yang Berafiliasi dan Laporan Arus Kas Konsolidasi. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu membuat laporan konsolidasian adanya transaksi utang jangka panjang antarperusahaan yang berafiliasi dan Laporan Arus Kas Konsolidasi.

Agar lebih memudahkan dalam memahami mata kuliah ini, berikut disampaikan desain instruksional yang menggambarkan tujuan dari instruksional tiap topik bahasan dan kompetensi-kompetensi pendukung yang harus Anda kuasai untuk mencapai kompetensi utama mata kuliah ini.

Dengan mempelajari setiap modul dengan cermat sesuai petunjuk yang ada serta mengerjakan semua latihan/tugas dan tes yang diberikan secara sungguh-sungguh, Anda akan berhasil dalam menguasai tujuan yang telah ditetapkan.

Selamat belajar, semoga Anda sukses!


MODUL 1
AKUNTANSI UNTUK INVESTASI SAHAM

Kegiatan Belajar 1: Pencatatan dan Pelaporan Investasi Saham
Rangkuman

1. Kepemilikan investasi saham digolongkan ke dalam 3 kelompok; kurang dari 20%, antara 20% sampai 50%, dan lebih dari 50%. Pembagian kelompok ini mempengaruhi perlakuan pencatatan akuntansinya. Metode Cost harus digunakan manakala investasi Investor kurang dari 20% atau tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Investee. Metode Ekuitas harus digunakan ketika investor memiliki saham investee 20% – 50% atau jika investor mempunyai pengaruh signifikan atas investee. Apabila investor memiliki saham investee lebih dari 50% maka investor boleh memilih metode Cost ataukah metode Ekuitas.
2. Metode Cost mengakui pendapatan investasi dari dividen yang diterimanya. Pada akhir periode, nilai tercatat harus disesuaikan dengan Fair Value (Nilai Wajar). Penerapan akuntansi untuk penyesuaian ini didasarkan pada kategori investasinya. Investasi dapat digolongkan pada kelompok Trading dan kelompok Available for sale. Investasi yang dimiliki untuk dijual dalam waktu dekat digolongkan pada kelompok Trading. Sedangkan investasi saham yang tidak dapat digolongkan pada kelompok Trading dimasukkan kelompok Available for sale.
3. Laba atau rugi (holding) yang belum di realisasi dilaporkan pada laba yang ditahan (earning) tahun yang berjalan jika investasi tersebut digolongkan sebagai Trading. Jika digolongkan Available for sale, laba atau rugi (holding) yang belum di realisasi dilaporkan secara terpisah pada pos Ekuitas Investor sebagai bagian Laba Komprehensif Lain.

Kegiatan Belajar 2: Metode Ekuitas untuk Pencatatan dan Pelaporan Investasi Saham
Rangkuman

1. Metode Ekuitas mencerminkan hubungan erat yang terjadi antara investor dan investee. Metode ini harus digunakan manakala kepemilikan investor antara 20% sampai 50% karena kepemilikan pada level ini diasumsikan terjadinya pengaruh signifikan investor terhadap investee. Namun demikian, apabila ada bukti bahwa meski investor memiliki 20%-50% namun tidak ada pengaruh signifikan maka metode ini tidak boleh dipakai. Sebaliknya, apabila ada bukti tentang pengaruh signifikan investor terhadap investee maka meskipun kepemilikannya kurang dari 20% maka metode ini harus diterapkan.
2. Metode Ekuitas mengharuskan untuk mengakui pendapatan investasi seiring dengan laba yang dilaporkan oleh investee dengan memisahkan komponen luar biasa, dan prior period adjustment. Karena pembayaran dividen berakibat turunnya ekuitas investee maka penerimaan dividen investee oleh investor akan dikurangkan dari saldo akun investasi saham.
3. Pada saat melakukan akuisisi, investor sering membayar lebih besar dibanding nilai buku investee. Dengan metode Ekuitas, selisih ini harus diidentifikasi kepada aset dan hutang yang berbeda nilai wajar dan nilai buku. Sedangkan sisa selisih yang tidak teridentifikasi diatributkan ke Goodwill. Nilai yang dialokasikan pada pos-pos tersebut, kecuali Tanah, akan diamortisasi secara sistematis selama umur ekonomisnya.
4. Jika sebagian atau seluruh investasi yang di cacat dengan menggunakan metode Ekuitas dijual, maka penggunaan metode ini harus tetap digunakan paling tidak sampai transaksi penjualan ini terjadi untuk menghitung laba/rugi penjualan. Setelah penjualan, metode yang digunakan tergantung apakah syarat-syarat metode Ekuitas terpenuhi ataukah tidak. Apabila masih terpenuhi maka penggunaan metode Ekuitas harus dilanjutkan. Apabila tidak maka metode Cost/Nilai Wajar harus diterapkan terhadap sisa investasi saham yang dipunyai.
5. Laba atau rugi karena adanya transaksi aset antar investor dengan investee harus ditangguhkan hingga aset yang diperjualbelikan tersebut telah laku dijual ke pihak luar atau habis dikonsumsi. Laba atau rugi yang ditangguhkan akan mengurangi Investasi dan Kepemilikan atas Laba Investee sebesar persentase kepemilikan investor terhadap investee.

Daftar Pustaka

* APB Opinion 18.
* Baker, Richard E., Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King. (2005). Advanced Financial Accounting. 6th Ed. New York-NY: McGraw Hill.
* Beams, Floyd A. (2002). Advanced Accounting. 7th Ed. Upper Saddle River-NJ: Prentice Hall Inc.
* Hoyle, Joe B. Hoyle, Thomas F. Schaefer, Timothy S. Doupnik. (2001) Advanced Accounting. 6th Ed. New York- NY: McGraw-Hill.
* Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akunatansi Keuangan per 1 Oktober 2004. Jakarta: Salemba Empat.
* Statement on Financial Accounting Concepts 6.


MODUL 2
PENGGABUNGAN USAHA

Kegiatan Belajar 1: Pelaporan Penggabungan Usaha: Metode Purchase
Rangkuman

1. Akuntansi memandang bahwa suatu penggabungan usaha dikategorikan menjadi dua jenis; pembelian (Purchase) dan penyatuan kepemilikan (Uniting of Interests).
2. Sebuah penggabungan usaha dikatakan sebagai pembelian (Purchase) apabila terdapat sebuah perusahaan yang memperoleh kendali (control) atas perusahaan lain. Nilai akuisisi didasarkan pada transaksi pertukaran dan seluruh biaya yang berhubungan dengan penggabungan, kecuali biaya yang berkaitan dengan penerbitan saham. Jika nilai akuisisi (harga perolehan) tersebut lebih besar dari total nilai wajar aktiva netonya maka selisihnya dicatat sebagai Goodwill.
3. Jika nilai akuisisi lebih kecil dari total nilai wajar pasar (Goodwill negatif), selisih tersebut diperlakukan sebagai pengurang aset non-moneter yang diterima dan dilakukan secara prorata.

Kegiatan Belajar 2: Pelaporan Penggabungan Usaha: Metode Pooling of Interests
Rangkuman

1. Sebuah penggabungan usaha dikatakan sebagai penyatuan kepemilikan (Uniting of Interests) apabila dua buah perusahaan melakukan pertukaran saham. Apabila hal ini terjadi (memenuhi 12 kriteria) maka metode penggabungan usahanya mengikuti metode Pooling of Interests.
2. Dengan metode Pooling of Interests, seluruh akun akan digabungkan atas dasar nilai bukunya. Oleh karena tanpa ada nilai akuisisi maka seluruh biaya yang berkaitan dengan penggabungan maupun dengan penerbitan saham diperlakukan sebagai beban pada periode terjadinya. Seluruh Pendapatan, Beban, dan Akun Operasional lain akan digabungkan secara retroaktif. Selisih nilai buku atas seluruh pos yang diterima dengan Nilai buku saham yang diterbitkan akan dicatat dalam pos Ekuitas.
3. Indonesia masih mengakui adanya dua metode dalam menerapkan akuntansi untuk penggabungan usaha, namun di dunia internasional penggunaan metode Pooling of Interests sudah semakin dibatasi, karena kelemahan-kelemahan teoretis yang dikandungnya.

Daftar Pustaka

* APB Opinion 16.
* Baker, Richard E. Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King. (2005). Advanced Financial Accounting. 6th ed. New York-NY: McGraw Hill.
* Beams, Floyd A. (2002). Advanced Accounting. 7th ed. Upper Saddle River-NJ: Prentice Hall Inc.
* Hoyle, Joe B. Hoyle, Thomas F. Schaefer, Timothy S. Doupnik. (2001). Advanced Accounting. 6th ed. New York-NY: McGraw-Hill.
* Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan per 1 Oktober 2004. Jakarta: Salemba Empat.
* Sirower, Mark L. (1997). The Synergy Trap. Terj. Hikmat Kusumaningrat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
* Statement on Financial Accounting Concepts 6


MODUL 3
LAPORAN KONSOLIDASIAN: SESAAT SESUDAH AKUISISI

Kegiatan Belajar 1: Laporan Konsolidasian:Sesaat Sesudah Akuisisi-Metode Purchase
Rangkuman

1. Sebuah perusahaan yang membeli mayoritas saham perusahaan lain harus menyusun Laporan Keuangan Konsolidasian. Laporan tersebut menunjukkan posisi finansial dan hasil operasi perusahaan dari induk perusahaan dan satu atau lebih anak perusahaan seolah-olah perusahaan-perusahaan tersebut merupakan suatu kesatuan perusahaan.
2. Laporan konsolidasian bermanfaat bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan jangka panjang atas induk perusahaan, misalnya investor dan kreditor jangka panjang.
3. Adanya kelemahan dalam Laporan Konsolidasian mengharuskan pengguna Laporan berhati-hati dalam menafsirkan hasil operasi, rasio keuangan, dan sisa laba induk ataupun anak perusahaan.
4. Laporan Konsolidasian yang disusun harus memperhatikan metode penggabungan usaha yang digunakan. Apabila metode penggabungan usahanya menggunakan Purchase maka Jurnal Konsolidasi yang harus dibuat sesaat sesudah penggabungan adalah Jurnal S (Stocks) dan Jurnal A (Allocation).
5. Jurnal S adalah jurnal yang digunakan untuk menghapus saldo awal atau saldo tanggal akuisisi mana yang lebih akhir, untuk metode Purchase.
6. Jurnal A adalah jurnal yang khusus dibuat untuk mengakui alokasi perbedaan nilai buku ekuitas perusahaan anak dengan harga perolehan pada saat akuisisi. Jurnal ini dibuat bila metode penggabungannya adalah Purchase.

Kegiatan Belajar 2: Laporan Konsolidasian: Sesaat Sesudah Akuisisi-Metode Pooling of Interests
Rangkuman

1. Laporan Konsolidasian yang disusun harus memperhatikan metode penggabungan usaha yang digunakan. Apabila penggabungan usahanya menggunakan metode Pooling of Interests maka Jurnal Konsolidasi yang harus dibuat sesaat sesudah penggabungan hanyalah Jurnal S saja.
2. Jurnal S adalah jurnal yang digunakan untuk menghapus saldo ekuitas awal periode untuk metode Pooling.
3. Metode Pooling tidak mengakui nilai wajar pasar maka tidak pernah melakukan jurnal A ini sesaat sesudah akuisisi.

Daftar Pustaka

* Baker, Richard E., Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King. (2005). Advanced Financial Accounting. 6th ed. New York-NY: McGraw Hill.
* Beams, Floyd A. (2002). Advanced Accounting. 7th ed. Upper Saddle River-NJ: Prentice Hall Inc.
* Hoyle, Joe B. Hoyle, Thomas F. Schaefer, Timothy S. Doupnik. (2001). Advanced Accounting. 6th ed. New York – NY: McGraw-Hill.
* Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan per 1 Oktober 2004. Jakarta: Salemba Empat.


MODUL 4
LAPORAN KONSOLIDASIAN-BEBERAPA SAAT SESUDAH AKUISISI

Kegiatan Belajar 1: Laporan Konsolidasian Lanjutan–Investasi Dicatat dengan Metode Ekuitas
Rangkuman

1. Prosedur yang digunakan untuk mengkonsolidasikan informasi keuangan yang diterbitkan oleh anak dan induk perusahaan dipengaruhi oleh waktu dan metode yang diterapkan oleh induk terhadap catatan investasinya.
2. Induk perusahaan dapat memilih menggunakan metode Ekuitas untuk mencatat investasi sahamnya. Metode ini memberikan informasi yang akurat kepada induk perusahaan tentang pengaruh finansial yang ditimbulkan dari kepemilikan induk terhadap saham anak perusahaan

Kegiatan Belajar 2: Laporan Konsolidasian Lanjutan-Investasi Dicatat dengan Metode Cost
Rangkuman

1. Induk perusahaan mungkin akan menggunakan metode Cost. Penggunaan metode ini lebih mudah dan mencerminkan pola arus kas. Namun, prosedur penyusunan laporan konsolidasiannya tetap mengacu pada metode Ekuitas. Jadi meski menggunakan metode Cost, saat membuat jurnal konsolidasi dalam Lembar Kerja Konsolidasi tetap harus juga menghitung beberapa pos dengan menggunakan metode Ekuitas.
2. Penggunaan metode Cost mengharuskan adanya penghitungan konversi terhadap Investasi saham dan Laba ditahan awal periode induk perusahaan.
3. Ketelitian sangat dibutuhkan dalam proses penyusunan Laporan Konsolidasian apa pun metodenya, apalagi jika berkaitan dengan laporan konsolidasian setelah beberapa tahun pasca-akuisisi. Apa pun metodenya, hasil dalam proses penyusunan laporan Konsolidasian tersebut tidak akan menunjukkan perbedaan.

Daftar Pustaka

* Baker, Richard E., Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King. (2005). Advanced Financial Accounting. 6th ed. New York-NY: McGraw Hill.
* Beams, Floyd A., (2002). Advanced Accounting. 7th ed. Upper Saddle River-NJ: Prentice Hall Inc.
* Hoyle, Joe B. Hoyle, Thomas F. Schaefer, Timothy S. Doupnik. (2001). Advanced Accounting. 6th ed. New York – NY: McGraw-Hill.
* Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan per 1 Oktober 2004. Jakarta: Salemba Empat.


MODUL 5
LAPORAN KONSOLIDASIAN–OUTSIDE OWNERSHIP

Kegiatan Belajar 1: Laporan Konsolidasian dan Non-Controlling Interests: Konsep teoretis
Rangkuman

1. Persyaratan untuk penyusunan laporan konsolidasian bukanlah kepemilikan seluruh saham anak perusahaan, namun kepemilikan lebih dari 50%. Dengan demikian, apabila sebuah perusahaan yang memiliki saham kurang dari 100% dan akan membuat laporan keuangan menghadapi masalah Minority Interests. Minority interest adalah pihak di luar induk perusahaan yang juga memiliki saham anak perusahaan.
2. Dengan menggunakan konsep konsolidasi proporsional yang didasarkan pada teori Proprietary, aktiva neto anak perusahaan yang dikonsolidasikan hanyalah yang merupakan porsi kepemilikan induk perusahaan saja. Sisanya atau disebut Hak Pemegang Saham Minoritas (HPSM) tidak ditampilkan dalam laporan konsolidasian induk perusahaan. Aktiva neto disesuaikan berdasarkan persentase kepemilikan induk perusahaan saja.
3. Konsep unit ekonomi yang didasarkan pada teori Entity berpendapat bahwa dengan adanya akuisisi oleh induk perusahaan maka pos-pos aktiva neto harus dilakukan revaluasi total (tidak hanya sebesar persentase kepemilikan induk perusahaan saja). HPSM diakui sebagai bagian dari ekuitas konsolidasian.
4. Adanya dua kubu yang sangat bertentangan (konsolidasi Proporsional vs Unit Ekonomi) melahirkan konsep yang mencoba merekonsiliasi keduanya, yakni konsep Parent Company. Konsep ini mengakui keberadaan HPSM, namun hanya sebatas nilai buku, tidak di revaluasi. HPSM disajikan bukan sebagai bagian Ekuitas atau utang konsolidasian, tetapi di antara keduanya. Aktiva neto dikonsolidasikan secara total namun alokasi dan amortisasi untuk selisih cost hanya didasarkan pada kepemilikan induknya saja.
5. Aktiva neto anak perusahaan yang dihasilkan dari ketiga konsep tersebut di atas dalam laporan konsolidasian pada akhirnya tidak ada perbedaan (sama). Tidak ada kewajiban untuk menggunakan salah satu dari ketiga konsep tersebut. Namun demikian, populernya penggunaan konsep Parent Company, dalam modul mata kuliah ini selanjutnya menggunakan konsep Parent Company.

Kegiatan Belajar 2: Laporan Konsolidasian dan Non-Controlling Interests: Beberapa Saat Sesudah Akuisisi
Rangkuman

1. Jurnal Konsolidasi yang dibuat dalam Lembar kerja mengalami sedikit perubahan. Pada Jurnal S, Investasi di kredit sebesar persentase kepemilikan induk perusahaan. Sisanya diatributkan pada HPSM. Begitu pula dengan Jurnal D. Pada jurnal ini jumlah dividen yang diterima hanyalah sebesar persentase kepemilikan induk, sisanya merupakan pengurangan terhadap HPSM.
2. Jurnal A, I, dan E tidak mengalami perubahan. Perhitungannya saja yang perlu dicermati; sebab dalam perhitungan alokasi, kepemilikan induk akan berpengaruh terhadap nilai buku dan item-item aktiva neto.
3. Oleh karena dalam jurnal standar S,A,I,D, dan E belum mengakomodasikan HPSM dalam laba anak perusahaan maka diperlukan Jurnal MI. Akun HPSM atas laba anak perusahaan adalah merupakan akun nominal yang akan dikurangkan dari laba anak perusahaan dalam konsolidasi

Daftar Pustaka

* Baker, Richard E., Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King. (2005). Advanced Financial Accounting. 6th ed. New York-NY: McGraw Hill.
* Beams, Floyd A., (2002). Advanced Accounting. 7th ed. Upper Saddle River-NJ: Prentice Hall Inc.
* Hoyle, Joe B. Hoyle, Thomas F. Schaefer, Timothy S. Doupnik. (2001). Advanced Accounting. 6th ed. New York- NY: McGraw-Hill.
* Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akunatansi Keuangan per 1 Oktober 2004. Jakarta: Salemba Empat.
* FASB. (26 Januari 2000). Business Combination: Procedures and New Basis Accounting. Project Summary


MODUL 6
LAPORAN KONSOLIDASIAN–AKUISISI BERTAHAP DAN PRE-ACQUISITION INCOME

Kegiatan Belajar 1: Laporan Konsolidasian: Akuisisi Bertahap
Rangkuman

1. Pada praktik sering kali investasi yang dimiliki oleh perusahaan induk berasal dari beberapa kali transaksi pembelian. Suara mayoritas dapat diperoleh pada pembelian pertama dan juga baru diperoleh pada pembelian berikutnya. Kewajiban menyusun laporan keuangan konsolidasi baru dimulai setelah perusahaan induk mempunyai suara mayoritas.
2. Perlakuan akuntansi terhadap masalah yang timbul karena pembelian bertahap ini akan tergantung pada metode akuntansi yang dipakai perusahaan induk, yaitu metode equity dan metode cost.
3. Perusahaan induk mencatat investasi dengan metode equity dan cost maka periode pemilikan investasi yang diperoleh secara bertahap dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap yaitu sebelum memiliki suara mayoritas, pada periode memperoleh suara mayoritas dan selama pemilikan setelah memperoleh suara mayoritas.
4. Jurnal konsolidasi yang dapat digunakan adalah jurnal S, A, I, D, E dan MI. Dengan adanya seluruh jurnal konsolidasi tersebut, maka akun Investasi saham pada Neraca Konsolidasian telah tereliminasi secara keseluruhan (bersaldo nol (0)).

Kegiatan Belajar 2: Laporan Konsolidasian: Akuisisi tidak Pada Awal atau Akhir Periode
Rangkuman

1. Pada praktiknya sering kali perusahaan induk melakukan pembelian saham perusahaan anak pada pertengahan tahun (bukan pada awal atau akhir periode). Pada keadaan seperti ini maka struktur modal perusahaan anak yang dipakai sebagai dasar adalah struktur modal pada saat pembelian saham tersebut terjadi (bukan pada awal periode).
2. Bila perusahaan induk mencatat investasi dengan metode equity maka untuk periode tersebut, perusahaan induk akan mengakui bagian atas laba perusahaan anak sejak pembelian terjadi (bukan untuk satu periode penuh).
3. Bila perusahaan induk mencatat investasi dengan metode cost maka untuk periode tersebut perusahaan untuk tidak perlu mengakui bagian atas laba perusahaan anak.
4. Jurnal konsolidasi yang dapat digunakan adalah jurnal S, A, I, D, E dan MI. Dengan adanya seluruh jurnal konsolidasi tersebut, maka akun Investasi saham pada Neraca Konsolidasian telah tereliminasi secara keseluruhan (bersaldo nol (0)).

Daftar Pustaka

* Baker, Richard E., Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King, (2005). Advanced Financial Accounting, 6th ed., McGraw Hill, New York-NY.
* Beams, Floyd A., (2002). Advanced Accounting, 7th ed., Prentice Hall Inc., Upper Saddle River-NJ.
* Hoyle, Joe B. Hoyle, Thomas F. Schaefer, Timothy S. Doupnik, (2001). Advanced Accounting, 6th ed., McGraw-Hill, New York- NY.
* Ikatan Akuntan Indonesia, (2004). Standar Akunatansi Keuangan per 1 Oktober 2004, Salemba Empat, Jakarta.
* FASB, (2000). Business Combination: Procedures and New Basis Accounting, Project Summary, 26 Januari.
* Accounting Research Bulletin No.51, Consolidated Financial Statements,
* Annual Report Toyota Motor Corporation.


MODUL 7
LAPORAN KONSOLIDASIAN–TRANSAKSI AKTIVA ANTARPERUSAHAAN YANG BERAFILIASI

Kegiatan Belajar 1: Transaksi AntarPerusahaan yang Beafiliasi
Rangkuman

1. Penyajian laporan konsolidasian didasarkan pada asumsi atas penyajian posisi keuangan dan hasil operasi dari suatu kesatuan usaha (perusahaan-perusahaan yang berafiliasi), bukan hanya satu perusahaan saja.
2. Tidak ada pengakuan laba atau rugi atas transaksi yang terjadi antara perusahaan yang berafiliasi.
3. Ada 2 transaksi yang mungkin dilakukan antar perusahaan yang berafiliasi yaitu transaksi aset dan transaksi utang/piutang. .
4. Transaksi internal yang berkaitan dengan aset terdiri dari 3 jenis transaksi yaitu persediaan barang dagangan, tanah dan aset yang harus di depresiasi/dideplesi/diamortisasi.
5. Transaksi internal yang berkaitan dengan utang/piutang terdiri dari 2 jenis transaksi yaitu utang yang berbunga dan utang yang tidak berbunga.
6. Transaksi persediaan barang dagangan dicatat melalui penjualan dan laba/rugi tidak diakui secara langsung melalui akun khusus, tetapi melalui proses jurnal penutup pada akhir periode.
7. Transaksi penjualan tanah dan beberapa aset yang di depresiasi akan diakui langsung pada saat terjadinya akun khusus.
8. Transaksi antar perusahaan yang berafiliasi akan dieliminasi melalui jurnal konsolidasi dengan asumsi bahwa transaksi antar perusahaan yang berafiliasi tersebut seakan-akan tidak pernah terjadi.

Kegiatan Belajar 2: Transaksi Barang Dagangan Antarperusahaan yang Berafiliasi
Rangkuman

1. Pada transaksi penjualan barang dagangan antar perusahaan yang berafiliasi, penjualan dan pembelian yang terjadi di antara kedua perusahaan harus dihapus/dieliminasi karena kedua perusahaan merupakan suatu kesatuan di mana transaksi tersebut hanya merupakan transfer barang dagangan dari satu gudang ke gudang yang lainnya.
2. Pada transaksi penjualan dan pembelian barang dagangan antar perusahaan yang berafiliasi diperlukan jurnal Transfer of Inventory untuk mengurangi saldo akun penjualan dan saldo akun pembelian.
3. Pada transaksi penjualan dan pembelian barang dagangan antar perusahaan yang berafiliasi di mana seluruh barang dagangan masih ada di gudang pembeli saat akhir periode, diperlukan jurnal konsolidasi untuk mengeliminasi pengaruh barang dagangan yang masih tersedia di gudang pembeli sekaligus mengeliminasi laba kotor yang belum direalisasi.
4. Pada transaksi penjualan dan pembelian barang dagangan antar perusahaan yang berafiliasi di mana seluruh barang dagangan sudah terjual ke pihak luar ataupun habis dikonsumsi oleh pembeli saat akhir periode, maka transaksi antara keduanya dipandang tidak pernah terjadi.
5. Pada transaksi penjualan dan pembelian barang dagangan antar perusahaan yang berafiliasi di mana sebagian barang dagangan masih ada di gudang pembeli saat akhir periode, diperlukan jurnal konsolidasi untuk mengeliminasi laba kotor yang belum direalisasi dan menurunkan nilai persediaan sebesar porsi yang masih tersedia di gudang saja.
6. Apabila laba kotor yang belum direalisasi dari transaksi antar perusahaan yang berafiliasi muncul dalam saldo persediaan akhir, maka diperlukan jurnal konsolidasi lanjutan. Karena jurnal pada tahun terjadinya transaksi bertujuan untuk mengeliminasi overstated-nya saldo persediaan akhir, sedangkan jurnal pada tahun berikutnya bertujuan untuk mengeliminasi overstated-nya saldo persediaan awal.
7. Prosedur untuk mengeliminasi laba antar perusahaan yang berafiliasi pada tahun berikutnya akan berbeda jika:
1. transaksinya adalah downstream (induk perusahaan sebagai penjual),
2. induk menggunakan metode Ekuitas untuk mencatat investasi sahamnya.

Daftar Pustaka

* Baker, Richard E., Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King, (2005), Advanced Financial Accounting, 6th ed., McGraw Hill, New York-NY.
* Beams, Floyd A., (2002), Advanced Accounting, 7th ed., Prentice Hall Inc., Upper Saddle River-NJ.
* Hoyle, Joe B. Hoyle, Thomas F. Schaefer, Timothy S. Doupnik, (2001), Advanced Accounting, 6th ed., McGraw-Hill, New York- NY.
* Ikatan Akuntan Indonesia, (2004), Standar Akunatansi Keuangan per 1 Oktober 2004, Salemba Empat, Jakarta.
* FASB, (2000), Business Combination: Procedures and New Basis Accounting, Project Summary, 26 Januari.
* Accounting Research Bulletin No.51, Consolidated Financial Statements,
* Annual Report Toyota Motor Corporation


MODUL 8
LAPORAN KONSOLIDASIAN–TRANSAKSI AKTIVA JANGKA PANJANG ANTARPERUSAHAAN YANG BERAFILIASI

Kegiatan Belajar 1: Transaksi Aktiva Jangka Panjang yang Tidak Didepresiasi Antarperusahaan yang Berafiliasi
Rangkuman

1. Kunci pokok dalam pembuatan jurnal konsolidasian transaksi tanah antarperusahaan yang berafiliasi, seperti membuat jurnal koreksi seolah-olah transaksi tersebut tidak pernah terjadi (as if the transaction never happen) sehingga proses dalam penyusunan lajurnya harus mampu mencerminkan saldo-saldo akun dari perspektif satu kesatuan usaha.
2. Urutan-urutan kejadian yang berkaitan dengan transaksi tanah antarperusahaan yang berafiliasi adalah sebagai berikut.
1. Laba penjualan tanah dilaporkan oleh pihak penjual.
2. Pihak pembeli dan penjual tidak akan melaporkan biaya depresiasi dan akumulasi depresiasi atau aset ini.
3. Laba penjualan yang dilaporkan oleh si penjual harus dieliminasi
3. Karakteristik transaksi tanah antar perusahaan berafiliasi adalah overstated nilai aset yang ditransfer dan overstated nilai laba pihak penjual. Transaksi tanah hanya melibatkan akun tanah, laba atau rugi langsung diakui pada saat terjadinya transaksi. Tanah dimiliki dalam waktu yang relatif lama, jadi overstated tanah akan tetap terjadi selama tanah masih dimiliki pembeli. Apabila ada HPSM maka harus dilihat jenis transaksinya, jika downstream maka baik penundaan laba maupun pengakuan laba tidak berpengaruh terhadap HPSM. Bila transaksi upstream maka penundaan dan pengakuan laba adalah berhubungan dengan anak perusahaan dan berpengaruh terhadap besarnya HPSM.

Kegiatan Belajar 2: Transaksi Aktiva Jangka Panjang yang Didepresiasi antarperusahaan yang Berafiliasi
Rangkuman

1. Transaksi/transfer antarperusahaan yang berafiliasi dalam bentuk aktiva yang didepresiasi/diamortisasi/dideplesi tidak berbeda dengan transaksi/transfer tanah. Namun demikian, adanya depresiasi/ amortisasi/deplesi dan akumulasinya, membuat transfer aktiva ini sedikit lebih rumit.
2. Jurnal standar yang diselenggarakan untuk menghilangkan pengaruh transaksi ini adalah jurnal TA dan jurnal ED. Jurnal TA digunakan untuk mengembalikan harga perolehan dan akumulasi aktivanya agar sesuai dengan prinsip biaya historis (historical cost). Jurnal ini sekaligus mengeliminasi laba/rugi yang tidak boleh diakui/ ditangguhkan. Jurnal ED digunakan untuk mengoreksi beban depresiasi agar sesuai dengan prinsip biaya historis.
3. Pada tahun-tahun setelah tahun transaksinya, dua jurnal tersebut tetap harus dilakukan dengan memperhitungkan kondisinya saat itu. Jurnal tersebut diberi tambahan insial asterisk (*) untuk menunjukkan bahwa transaksinya terjadi pada tahun sebelumnya.
4. Jika aktiva yang ditransfer dari perusahaan afiliasinya dijual sebelum habis umur ekonomisnya maka jurnal *TA dan *ED akan digabung menjadi satu.

Daftar Pustaka

* Baker, Richard E., Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King. (2005). Advanced Financial Accounting. 6th ed. New York-NY: McGraw Hill.
* Beams, Floyd A. (2002). Advanced Accounting. 7th ed. Upper Saddle River-NJ.: Prentice Hall Inc.
* Hoyle, Joe B. Hoyle, Thomas F. Schaefer, Timothy S. Doupnik. (2001). Advanced Accounting. 6th ed. New York – NY.: McGraw-Hill.
* Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan per 1 Oktober 2004. Jakarta: Salemba Empat.
* Accounting Research Bulletin No. 51. Consolidated Financial Statements.


MODUL 9
LAPORAN KONSOLIDASIAN–TRANSAKSI UTANG JANGKA PANJANG ANTARPERUSAHAAN YANG BERAFILIASI DAN LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI

Kegiatan Belajar 1: Transaksi Utang Jangka Panjang Antarperusahaan yang Berafiliasi
Rangkuman

1. Jika sebuah perusahaan membeli instrumen utang (misalnya Obligasi) dari perusahaan afiliasinya dari pihak ketiga, harga perolehannya biasanya akan berbeda dengan nilai buku/tercatat (carrying amount) utang tersebut. Dengan demikian dari perspektif konsolidasi, akan diakui adanya laba atau rugi penarikan utang tersebut. Namun karena masing-masing individual perusahaan masih mencatat saldo utang dan investasi obligasi tersebut, maka laba atau rugi tersebut tidak akan tercatat. Dalam proses konsolidasi, saldo-saldo ini akan disesuaikan untuk mencerminkan kondisi tersebut.
2. Sebagai konsekuensi dari pembelian utang oleh perusahaan afiliasi, biaya bunga dan pendapatan bunga akan tercatat secara individual. Karena dua akun ini resiprokal, maka dua akun ini harus dieliminasi dalam proses konsolidasi bersamaan dengan dieliminasinya utang dan investasi obligasi.
3. Amortisasi saldo diskonto/premium dan saldo investasi obligasi harus dilakukan apabila bunga nominal yang dibayar atau diterima tidak sama dengan perhitungan bunga efektifnya. Oleh karena itu, besaran biaya bunga dan pendapatan bunga tidak akan sama. Penutupan kedua akun ini bersamaan dengan eliminasi utang dan investasi obligasi.
4. Perbedaan saldo antar akun yang resiprokal pada tahun-tahun sesudah tahun pembelian utang obligasi akan dicatat sebagai penyesuaian terhadap Laba ditahan awal dalam jurnal konsolidasi. Bila induk menggunakan metode Ekuitas, akun untuk menampung perbedaan tersebut adalah Investasi saham.

Kegiatan Belajar 2: Laporan Arus Kas Konsolidasian
Rangkuman

1. Laporan Arus Kas adalah salah satu laporan yang wajib disusun oleh perusahaan. Laporan ini tidak tercipta melalui konsolidasi dari Laporan Arus Kas individual perusahaan yang berafiliasi, melainkan Laporan Laba rugi konsolidasian dan Neraca Konsolidasian dibuat dan Laporan Arus Kas Konsolidasian dibuat berdasarkan dikembangkan dari dua laporan tersebut.
2. Dalam penyusunan Laporan Arus Kas konsolidasian, Hak Pemegang Saham Minoritas atas Laba anak perusahaan dikeluarkan dari perhitungan Laba Konsolidasian, namun dividen yang dibayar kepada Pemegang Saham Minoritas akan dimasukkan ke dalam komponen Arus Kas dari Kegiatan Pendanaan

Daftar Pustaka

* Baker, Richard E., Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King, (2005), Advanced Financial Accounting, 6th ed., New York-NY: McGraw Hill.
* Beams, Floyd A., (2002), Advanced Accounting, 7th ed., Prentice Hall Inc., Upper Saddle River-NJ.
* Hoyle, Joe B. Hoyle, Thomas F. Schaefer, Timothy S. Doupnik, (2001), Advanced Accounting, 6th ed., New York- NY: McGraw-Hill.
* L Suparwoto, (1990), Akuntansi Keuangan Lanjutan, 1th ed., Yogyakarta: BPFE.
* Ikatan Akuntan Indonesia, (2004), Standar Akunatansi Keuangan per 1 Oktober 2004, Jakarta: Salemba Empat.
* Accounting Research Bulletin No.51, Consolidated Financial Statements



Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright Fajar 26 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.